At-Taubah ayat 41

“Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. ”

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Abud Duha Muslim ibnu Sabih sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya:

“Berangkatlah kalian, baik dalam keadan merasa ringan ataupun merasa berat.” (At-Taubah: 41)

Ayat ini adalah ayat yang mula-mula diturunkan dari surat Bara’ah. Read More …

Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang – orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang – orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.” Read More …

Al Quran Kitab Hidayah Bukan Teks Nyanyian

1. Al Quran diturunkan untuk menjadi panduan hidayah “hudan linnaas” bukan untuk menjadi teks nyanyian. Maka siapa yang memaksa Al Quran menjadi semata teks nyanyian itu telah mengeluarkan Al Quran dari tujuan aslinya.

2. Setiap yang takalluf “pemaksaan di luar fitrah” itu diharamkan dalam Islam. Nabi pernah marah kepada sahabat yang takalluf ingin puasa tanpa berbuka, shalat malam tanpa tidur dan hidup tanpa menikah. Maka melagukan bacaan Al Quran sampai ke tingkat takalluf untuk ikut langgam jawa misalnya sehingga keluar dari cara membaca dan tujuan diturunkannya seperti yg Allah dan Rasulnya ajarkan itu haram hukumnya.

3. Ada kaidah syariat : mempertimbangkan antara manfaat dan mafsadah (pengrusakan). Maka setiap yang mafsadahnya lebih besar diharamkan dalam Islam. Diharamkannya khamar oleh Allah adalah karena mafsadahnya lebih besar, sekalipun ada juga manfaatnya. Silahkan pertimbangkan antara mafsadah dan manfaat dalam melagukan Al Quran dengan langgam jawa. Kita saja sebagai bangsa marah kalau lagu kebangsaan Indonesia Raya dilagukan dengan langgam jawa. Itu kita anggap penghinaan terhadap negara. Apalagi Al Quran.

Klik tombol Read More untuk melanjutkan. Read More …

Undangan Tabligh Akbar

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Bersama ini diberitahukan kepada seluruh jamaah Masjid Al Madinah dan warga sekitar Perumahan Puri Bukit Depok, bahwa akan dilaksanakan Pengajian Akbar dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada:
Hari/tanggal : Minggu 8 Januari 2017
Pukul : 09.00 – Selesai
Tempat : Masjid Al Madinah
Pembicara : Ust. H Riza Muhammad. (Sinetron Pesantren Rock n Roll)

Tema yang diambil pada peringatan kali ini adalah

“Dengan Meneladani Rasulullah SAW, Mari Kita Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah” Read More …

Momentum Hijrah

Momentum pergantian tahun Hijriah selalu mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Hijrah berarti berpindah dengan meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain, atau berubah dengan meninggalkan suatu kondisi untuk menuju kondisi yang lain. Dalam Islam, hijrah memang ada dua macam.

Pertama, hijrah hissiyyah (hijrah fisik dengan berpindah tempat), dari darul khauf (negeri yang tidak aman dan tidak kondusif) menuju darul amn (negeri yang relatif aman dan kondusif), seperti hijrah dari Kota Makkah ke Habasyah (Ethiopia) dan dari Makkah ke Madinah.

Kedua, hijrah ma’nawiyyah (hijrah nilai). Yakni, dengan meninggalkan nilai-nilai atau kondisi-kondisi jahiliah untuk berubah menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi Islami, seperti dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, pemikiran dan pola pikir, muamalah, pergaulan, cara hidup, kehidupan berkeluarga, etos kerja, manajemen diri, manajemen waktu, manajemen dakwah, perjuangan, pengorbanan, serta aspek-aspek diri dan kehidupan lainnya sesuai dengan tuntutan keimanan dan konsekuensi keislaman.

Klik tombol Read More untuk melanjutkan. Read More …

Janji Beriman

Tidak beriman seseorang kecuali izin Allah dan Dia telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman, yang mengerjakan kebajikan, bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka yang beriman berkuasa di bumi.

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur : 55)

Klik tombol Read More untuk Melanjutkan. Read More …

Piagam Madinah

Piagam Madinah adalah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan perjanjian formal antara beliau dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yatsrib (Madinah) pada tahun 622M. Dokumen tersebut disusun dengan tujuan untuk menghentikan pertentangan antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu, dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak dan kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas lain di Madinah, sehingga membentuk kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah.

Piagam Madinah terdiri dari 47 pasal dan mengikat seluruh penduduk yang terdiri dari bebagai kaum yang menjadi penduduk Madinah.

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini adalah Piagam dari Muhammad. Nabi SAW di antara kaum mukminin dan muslimin (yang berasal) dari Quraisy dan Yatsrib, dan orang yang mengikuti mereka,
menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka:
1. Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komunitas) manusia yang lain.
2. Kaum Muhajirin dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.
3. Banu ‘Auf, sesuai keadaan (kebiasaan) mereka, bahu-membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara mukminin.

Klik tombol Read More untuk Melanjutkan. Read More …